“Terimakasih Pak”

The ending is always a surprise -Daniel Wallace, Big Fish-

 

Pagi itu saya terkejut, berita itu terlalu menyesakkan. Kawan-kawan mulai mengganti status blackbery messengernya, dan yang lain memposting tweet yang sama. Saya mencoba sekali lagi mengkonfirmasi berita itu. Hasilnya tidak jauh berbeda.
Setelah memastikan kebenaranny, rasa terkejut berubah menjadi rasa kehilangan. Rasa kehilangan yang bercampur kesedihan. Campur aduk.

Sesaat kemudian, saya mencoba menyampaikan kabar duka itu bagi kawan yang belum mengetahui. Masih bergetar,saya mencoba mengetik status yang sama. RIP bapak Ino Yuwono

Semua cerita pasti memiliki akhir, dalam cerita tentang kehidupan akhir tersebut berupa kematian.
Semua tahu jika pada akhirnya semua orang pasti akan meninggal. Namun tidak akan ada yang mengetahui kapan dan bagaimana seseorang akan meninggal. Hal itu membuat setiap kematian selalu menjadi surprise. Inconvenient Surprise yang selalu membawa perasaan kehilangan.

Ketika seseorang meninggal, yang tertinggal adalah kenangan. Kenangan tentang pak ino.
Jujur saya tidak terlalu mengenal Pak Ino secara pribadi. Saya tidak tahu banyak tentang keluarganya, bagaimana pilihan-pilihan hidupnya dan bagimana visinya tentang hidup.
Kami hanya beberapa kali berinteraksi, kebanyakan diruang kuliah dan beberapa interaksi diluar kuliah.
Tetapi dari yang sedikit itu, Pak Ino cukup membawa pengaruh yang cukup besar terhadap cara saya memandang hidup.

Sebagai Dosen, semua tahu beliau adalah pengajar yang berdedikasi. Dengan semua sikap skeptisnya, dengan segala kedalaman ilmunya.
Beliau berhasil memaksa kami semua memahami konsep. Membaca habis semua bab buku berbahasa inggris. Menolak membagikan powerpoint presentasi, hingga memaksa kami belajar sesuatu tentang konsekuensi. Materi tentang konsekuensi ini yang dulu kami anggap sangat konyol. Segala kesalahan, baik itu tidak bisa menjawab kuis, terlambat masuk kuliah, tidak bisa menjawab pertanyaan ketika presentasi, hukumannya sama : membawa makanan bagi seisi kelas d pertemuan berikutnya. Mungkin sekarang hukuman itu terasa tidak terlalu berat, tapi dulu ketika kami masih mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, sekali kena hukuman itu bisa berarti kami harus puasa dan mati-matian menghemat uang bulanan.
Tapi kenyataannya metode beliau lumayan berhasil memaksa mahasiswa paling malas sekalipun membaca buku.

Pertanyaan-pertanyaan skeptisnya “kenapa”. Membuat kami sadar kami harus benar-benar memahami dasar permasalahan sebelum kami harus mengambil keputusan. Kami harus benar-benar paham dasar konseptual sebelum kami berpikir penerapan.

Apabila sedang berada diluar kelas, sosok beliau tidak terlalu menakutkan. Bahkan sangat egaliter dan tidak “nyungkani” untuk bergaul. Beberapa candaannya yang terkadang kasar memang tersasa tidak nyaman di telinga teman-teman mahasiswi tapi dalam hati saya yakin mereka memaklumi.

Beliau bahkan mengajari saya bagaimana memperlakukan wanita. Ketika itu ada seorang mahasiswi yang sedang menangis pasca meluapkan kemarahannya di akhir sebuah acara kepanitiaan. Pak Ino dengan sigap mendatanginya dan dengan lembut memeluknya, menenangkan. Saya yang berada di sebelahnya kagum dan malu. Kagum dengan sikap beliau, dan malu karena saya yang sedari tadi berada di sebelah mahasiswi tadi hanya diam dan bingung, pdhl sebenarnya mahasiswi itu pacar saya. Pak Ino waktu itu melihat saya yang kebingungan sambil berbisik “iki lho bo,ojok dijarno ae”. Memberi saya pelajaran berharga.

Sosok pak ino mengingatkan saya kepada master yoda, dalam film starwars, yang memiliki kebijaksanaan yang sangat luas. Atau Master Sifu, dalam film kungfu panda. Paling ekstrim, kadang sosok beliau seperti Viru Sastrabudhi, atau Virus dalam film 3 idiot : Keras dalam mendidik dan disiplin. Saya pribadi yakin sosok beliau ada diatas ketiga tokoh tersebut, dan saya mengidolakan pak Ino.

Terkadang cara beliau mengajar menyakitkan. Hmm, bukankah Sometimes we need a slap in a face? -Paul Arden-. Terkadang kita memang butuh tamparan yang “membangunkan” kita.
Bagi yg pernah merasakan pengalaman diajar beliau pasti merasakan “tamparan” beliau.
Bahkan beliau “menampar” kita dengan kepergiannya yang tiba-tiba.

The ending is always a surprise, tapi juga epic. Hari ini saya melihat ratusan orang berjubel menghadiri pemakaman beliau, artinya bukan hanya saya yang merasakan pengaruh beliau. Ratusan orang yang menghadiri penghormatan terakhir untuk Pak Ino berarti sesuatu. Pak Ino sudah menginspirasi banyak orang. Ratusan orang itu bangga pernah menjadi murid bapak. Saya bangga pernah menjadi murid bapak.

Selamat Jalan Pak,
Terimakasih atas semua pelajaran dan ilmunya
Terimakasih pak, Terimakasih.

 

PS: post ini di tuliskan sepenuhnya oleh @pemudasehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *