Tak Kenal Maka Tak Sayang

Ada suatu hari, dimana sebuah berita tentang kesedihan, sedang menyebar dengan sangat cepat

berita kesedihan kali ini tentang meninggalnya seseorang. orang yang sangat terkenal di lingkungan kampusku

“Eh, katanya Pak Ino meninggal!”, “Beneran tah? Konfirm Plis!”

chat pertama pada conference chat yang kulihat saat bangun pagiku di hari itu. Wow! dalam setengah sadarku memulai hari, aku sudah diberikan berita duka.. apakah akhir dari hari ini akan jauh lebih berduka lagi?

Ternyata berita itu benar adanya. Salah seorang dosen di alumni Fakultasku telah meninggal. Beberapa saat kemudian ku ingat lagi wajah dan tingkah lakunya dalam anganku.

Aku tak banyak mengenal orang ini. tapi yang aku tahu, dia dosen “paling killer” nomer satu yang ada di alumni fakultasku dulu. ┬áDia dulu juga dosen pertama yang pernah memarahiku saat pertama kali masuk ke fakultas psikologi unair. Waktu itu aku salah kelas, ga tahu harus masuk kelas mana, berharap bertemu dosen atau karyawan yang ramah dan membantu, eh sialnya malah ketemu dia.

“Kok bisa ga tahu kamu itu kelas mana?! gimana toh??”, ucapnya sambil ‘mengkerik’ di depan pintu waktu itu. pengalaman pertama bersamanya yang cukup horor rasanya diawal masuk kuliah.

Beberapa tahun kemudian, Sempat aku berhadapan dengannya dalam sebuah kelas. mencoba memberanikan diri menerima ilmunya.

“Yang ga bisa jawab, Keluar! ikuti mata kuliahnya tahun depan!”, katanya sambil menghisap sebatang rokok yang dipegang dengan cara yang sangat unik menurutku. tak banyak orang yang kuketahui memegang rokoknya dengan cara itu. diselipkan diantara jari manis dan jari tengahnya.

Baru saja aku memberanikan diri, sudah seperti ini awalnya. Betul saja, karena tidak bisa menjawab, aku pun keluar dan harus mengulang mata kuliah itu semester depan. Setelah itu, tak banyak moment ku untuk berhadapan dengannya lagi. Aku sudah cukup kecewa saat itu.

Tak kenal maka tak sayang

Begitulah kira-kira penggalan sebuah lagu lawas yang dulu cukup populer. Mungkin beginilah salah satu hal yang dirasakan saat berkomunikasi dengan Pak Ino Yuwono dan kemudian mengerti siapa dan bagaimana dirinya sebenarnya.

Kata-katanya selalu pedas, Menyayat hati. Selalu membuat tertampar rasanya. Mungkin Kesan pertama terhadap bapak satu ini adalah “Orang yang akan menyulitkan kehidupan akademik saya di kampus”.

Pak Ino dikenal sebagai orang yang sangat menguasai ilmu nya. celetukan-celetukan singkatnya pun penuh makna. sering kali ku dengar juga cerita-cerita seru dan lucu yang diceritakan anak-anak didiknya di mata kuliah tertentu. ada yang disuruh bawa kue traktir sekelas, ada yang suruh bawa beli pizza.. ahh.. macam-macam ceritanya..

Beberapa orang memilih untuk menjauhi dan tidak berhadapan dengannya, termasuk saya salah satunya.┬áTapi aneh, beberapa kali aku melihatnya bersama temanku yang lainnya, mereka bisa tertawa. “Bagaimana Caranya? Bagaimana Mungkin?”, tanyaku dalam hati. Jujur sebenarnya aku ingin seperti mereka. Dapat bercanda tawa dengan Pak Ino. Tentu aku juga ingin mendapat bagian dari ilmu nya, mencontoh pribadi nya yang menurutku baik.

Sayangnya saat itu mentalku tak sebaja teman-temanku. milikku masih mental krupuk. langsung hancur begitu dikepruk. tak kucoba lagi untuk berkenalan dengan dirinya lebih dalam. Ini mungkin yang aku cukup sesali sekarang, Tak bisa kuambil ilmu dari Pak Ino, Tak bisa ku ketahui sendiri pribadi aslinya yang menarik. Tak bisa kucontoh sikap disiplinnya.

Berbahagialah bagi yang sudah dekat mengenal dirinya.. Menyerap Ilmunya.. dan tertawa dengan guyonannya..

Penghormatan Terakhir

Hari sabtu ini merupakan hari penghormatan terakhir untuk Pak Ino Yuwono, yang di adakan di Fakultas Psikologi Unair. masih sempat aku mendekati peti matinya dan menyentuhnya.

Tersenyum, aku tersenyum saat itu. sembari berkata dalam hati “mati hanyalah sebuah fase, hanya saja anda yang lebih dulu dari pada kami”

Aku mencoba untuk tetap tersenyum. Tapi pada saat terakhir Bu Retha memberikan salah satu kutipannya, entah kenapa emosi ini membuncah. Air mata ingin mengalir rasanya. Hei..padahal aku tak cukup banyak mengenal dirinya! rasanya pengalaman yang diliputi rasa takut ku lebih banyak daripada pengalaman indah dan menyenangkan bersamanya.

Tapi kenapa saat itu aku ingin menangis.. Kenapa ingin kuteteskan air mataku untuknya?

Mungkin sebenarnya aku sangat mengaguminnya.. orang yang sangat berkarakter..dan berilmu..

Mungkin juga sebagian perasaanku berisi kekecewaan.. kekecewaan karena tak dapat mengenalnya lebih jauh..

Kupikir.. Tak akan ada cara memberikan penghormatan terakhir yang pantas bagi mu. Karena penghormatan terakhir untuk seorang guru adalah dengan menerapkan semua ilmunya agar bermanfaat…

Selamat jalan pak Ino Yuwono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *